bahaya behel palsu

7 Bahaya Behel Palsu yang Sering Menyebabkan Kerusakan Gigi

Penggunaan behel palsu bisa memicu berbagai masalah, mulai dari gigi bergeser tidak terkontrol, kerusakan enamel, alergi, hingga infeksi gusi yang menyebar ke jaringan lebih dalam sehingga perlu diwaspadai sebagai bahaya behel palsu bagi kesehatan mulut.

Untuk mencegah komplikasi jangka panjang, perawatan ortodonti sebaiknya dilakukan diklinik gigi Surabaya , dengan dokter gigi terlatih dan standar sterilisasi yang terjaga.

Apa Itu Behel Palsu?

Behel palsu adalah kawat gigi yang dibuat dan dipasang tanpa standar kedokteran gigi, biasanya oleh orang yang bukan dokter atau tanpa pengawasan dokter gigi, sehingga risiko bahaya behel palsu jauh lebih tinggi dibanding behel resmi.  Kondisi ini membuat hasilnya tidak bisa diprediksi karena tidak ada analisis struktur rahang, kondisi gigi penyangga, maupun riwayat kesehatan mulut sebelumnya.

Bahan behel palsu bisa berupa logam biasa, kawat kerajinan, hingga aksesori berwarna yang tidak dirancang untuk berada di dalam mulut dalam jangka waktu lama, dan kondisi ini ikut memicu bahaya pemasangan kawat gigi seperti iritasi dan karat di dalam mulut. Pada beberapa kasus, bagian logam yang tajam juga dapat tersangkut makanan dan jaringan lunak sehingga membuat pasien sulit membersihkan gigi dengan baik.

Bahaya Behel Palsu Secara Medis

Sebelum memilih behel hanya karena tampilan, penting memahami apa saja risiko medis yang bisa terjadi ketika memakai behel palsu, karena bahaya behel palsu sering baru terasa ketika keluhan sudah cukup berat. Setiap risiko dapat memengaruhi kualitas hidup sehari-hari, mulai dari makan, berbicara, sampai rasa percaya diri saat tersenyum.

1. Alergi dan Iritasi Mulut

Material murahan pada behel palsu bisa memicu reaksi alergi pada gusi, pipi bagian dalam, dan bibir, sehingga bahaya behel palsu bisa muncul dalam bentuk gatal, bengkak, luka lecet, sampai sariawan luas yang tidak kunjung sembuh. Jika tidak segera ditangani, luka berulang ini dapat mengganggu asupan makan dan menurunkan daya tahan jaringan mulut.

2. Infeksi Gusi dan Jaringan Mulut

Pemasangan tanpa prosedur steril membuat kuman dan bakteri mudah masuk ke jaringan gusi, menjadikan bahaya behel palsu berupa gusi bengkak, bau mulut, sampai nanah di sekitar gigi. Infeksi yang terus dibiarkan dapat menyebar ke tulang penyangga gigi sehingga gigi menjadi goyang dan lebih berisiko tanggal lebih cepat.

3. Gigi Bergeser Tidak Terkontrol

Tekanan behel palsu tidak dihitung berdasarkan analisis rahang dan posisi gigi, sehingga bahaya behel palsu bisa berupa gigi bergeser ke arah yang salah, makin berjejal, atau terbentuk celah yang mengganggu fungsi mengunyah. Akhirnya, perawatan ortodonti yang seharusnya cukup sederhana bisa berubah menjadi kasus kompleks yang memerlukan waktu lebih lama untuk diperbaiki.

4. Kerusakan Enamel Gigi

Bahan logam atau lem yang tidak sesuai standar dapat menggores atau mengikis lapisan luar gigi, menjadikan bahaya behel palsu berupa enamel menipis, gigi ngilu, dan lebih cepat berlubang. Pada sebagian orang, keluhan ini disertai rasa sensitif berlebih terhadap makanan dingin, panas, atau manis yang mengganggu kenyamanan saat makan.

5. Risiko Gigi Retak atau Patah

Tekanan berlebihan dari behel palsu bisa menimbulkan retakan halus pada gigi tanpa gejala awal. Akibatnya, gigi dapat patah saat menggigit makanan keras dan akhirnya harus dicabut. Gigi yang hilang kemudian memerlukan perawatan lanjutan, seperti gigi tiruan, implan, atau jembatan gigi, yang tentu lebih mahal dan memakan waktu.

6. Penyakit Menular dari Alat Tidak Steril

Behel palsu sering dipasang di tempat yang tidak menerapkan sterilisasi alat dengan benar, sehingga meningkatkan risiko penularan penyakit melalui darah dan saliva. Padahal, proses yang menyentuh darah dan jaringan gusi harus dilakukan dengan alat steril untuk mencegah infeksi antar pasien.

7. Sariawan Berulang dan Luka Kronis

Tepi logam yang tajam dan posisi bracket yang tidak tepat membuat bibir dan pipi bagian dalam sering tergores, dan bahaya behel palsu bisa terlihat dari sariawan berulang dan luka kronis yang sulit sembuh. Luka yang tidak kunjung membaik juga dapat mengganggu kemampuan berbicara dan menurunkan rasa nyaman saat tersenyum atau tertawa.

sariawan berulang dan luka kronis

Source: Pinterest

8. Gangguan Mengunyah dan Nyeri Rahang

Susunan gigi yang bergeser tidak seimbang akan mengganggu kontak antar gigi ketika menggigit, sehingga bahaya behel palsu juga dapat memicu pegal rahang, bunyi klik pada sendi, hingga nyeri kepala. Dalam jangka panjang, gangguan pada sendi rahang dapat mempengaruhi pola makan dan membuat pasien enggan mengunyah makanan bertekstur lebih keras.

9. Kesulitan Membersihkan Gigi

Desain behel palsu sering menyulitkan sikat gigi dan benang gigi menjangkau sela-sela, membuat meningkatnya plak, gigi berlubang, gusi meradang, dan bau mulut yang mengganggu. Jika tidak dibersihkan dengan benar, penumpukan plak juga dapat berkembang menjadi karang gigi yang membutuhkan tindakan profesional untuk dibersihkan.

10. Biaya Perbaikan Menjadi Jauh Lebih Besar

Keinginan menghemat dengan memilih behel murah sering berakhir pada perawatan tambahan untuk memperbaiki kerusakan. Akhirnya, bahaya behel palsu justru membuat waktu dan biaya yang dikeluarkan jauh lebih besar dibanding perawatan di klinik resmi.

Perbedaan Behel Palsu vs Behel Resmi

Memahami perbedaan behel palsu dan behel resmi membantu kamu menilai mana yang benar-benar aman untuk kesehatan serta menghindari bahaya behel palsu sebelum terjadi kerusakan yang sulit diperbaiki. Dengan informasi yang jelas, kamu bisa lebih tenang saat memutuskan jenis perawatan yang akan dijalani.

1. Pemasang dan Kualifikasi

Behel resmi dipasang oleh dokter gigi atau dokter gigi spesialis ortodonti yang memiliki pendidikan dan pelatihan khusus. Sementara itu, behel palsu biasanya dikerjakan oleh pihak tanpa latar belakang medis dan dapat menimbulkan berbagai bahaya selama maupun setelah pemasangan. Dokter gigi juga memiliki kewenangan untuk mengevaluasi indikasi, kontraindikasi, dan rencana perawatan yang aman untuk setiap pasien.

2. Prosedur dan Pemeriksaan

Sebelum pasang behel resmi, pasien menjalani pemeriksaan menyeluruh mulai dari foto rontgen, analisis rahang, hingga rencana perawatan jangka panjang, sedangkan behel palsu umumnya dipasang tanpa analisis sehingga bahaya behel palsu sulit diprediksi. Di klinik resmi, pasien juga mendapatkan penjelasan mengenai tahapan kontrol dan target hasil yang diharapkan.

3. Kualitas Bahan

Behel resmi memakai bahan yang teruji klinis dan aman untuk penggunaan jangka panjang. Sementara itu, behel palsu biasanya menggunakan material murah yang berisiko menimbulkan alergi dan karat. Material yang tepat tidak hanya aman, tetapi juga dirancang agar nyaman saat digunakan dan lebih stabil selama masa perawatan.

4. Standar Kebersihan dan Sterilisasi

Klinik resmi selalu menerapkan protokol sterilisasi yang ketat untuk setiap alat. Sebaliknya, tempat pemasangan behel palsu sering mengabaikannya, sehingga risiko infeksi dan penularan penyakit menjadi jauh lebih besar. Protokol kebersihan yang benar juga melindungi tenaga medis dan pasien lain di lingkungan klinik.

5. Kontrol dan Tindak Lanjut

Perawatan behel resmi disertai jadwal kontrol teratur untuk memantau pergerakan gigi dan menyesuaikan kawat, sedangkan pada behel palsu kontrol sering tidak terstruktur sehingga bahaya behel palsu sering baru disadari setelah kerusakan cukup berat. Pada kontrol rutin, dokter juga mengecek kebersihan gigi dan memberikan saran perawatan rumahan yang sesuai kebutuhan pasien.

Konsultasi Aman di Odonto Dental Care

Source: Freepik

Menghindari bahaya behel palsu sangat penting untuk kesehatan gigi jangka panjang. Konsultasikan langsung kondisi gigimu melaluiPerawatan Odonto Dental Care di Surabaya. Tenaga profesional kami siap membantu memberikan solusi terbaik untuk senyum sehatmu.

Konsultasi Gigi Sekarang